Berita Bola Liga Champions

Injury Time yang Menyakitkan Untuk Ajax Amsterdam

Penyesalan tidak dapat ditutupi oleh kapten tim Ajax Amsterdam, Matthijs de Ligt setelah klub yang ia bela harus gagal melangkah ke final Liga Champions karena dijegal oleh Tottenham Hotspur pada babak injury time saat laga semifinal leg kedua hari Kamis kemarin. De Ligt mengungkapkan betapa menyakitkannya kekalahan yang diderita oleh Ajax yang terjadi pada masa injury time. Bagaimana tidak, hanya hitungan menit saja final sudah ada di depan mata Ajax, namun ternyata Tottenham merebut semua itu.

Ajax melakoni semifinal leg kedua punya modal bagus dengan menang 1-0 saat leg pertama. Hasil itu membuat Ajax lebih difavoritkan untuk berada di partai puncak. Apalagi leg kedua dihelat di kandang Ajax sendiri. Akan tetapi kenyataan berkata lain. Justru Ajax harus menelan pil pahit. Ajax kalah tipis 2-3 yang membuat agregat pun sama menjadi 3-3 namun Tottenham unggul jumlah gol tandang sehingga berhak untuk melaju ke final Liga Champions.

Pada laga leg kedua pun Ajax unggul dengan 2 gol tanpa balas yang membuat kans mereka untuk ke final terbuka semakin lebar. Akan tetapi kemudian di babak kedua Tottenham bangkit melalui Lucas Moura yang mengemas 3 gol. Gol pertama Tottenham tercipta pada menit ke-55, kemudian gol kedua tercipta di menit ke-59 dan gol penentuan dicetaknya di babak injury time lebih tepatya pada menit ke-90+6.

Gol penentu yang terjadi pada detik-detik berakhirnya laga itulah yang bagi De Ligt begitu menyakitkan untuk Ajax. De Ligt menyayangkan babak injury time yang tidak segera berakhir. “Wasit mengatakan bahwa hanya ada satu menit tersisa dan kita tahu kita harus bertarung untuk mempertahankannya. Kita berpikir kita melakukannya, namun ternyata tidak. Laga berakhir lima detik lebih panjang” ucap De Ligt menyesal.

Penyesalan tak mudah hilang dari wajah para pemain Ajax pasca menerima kenyataan bahwa mereka gagal melaju ke final. “Ini rasanya seperti tanah menghilang dari bawah kaki kita. (Kita sudah) begitu dekat. Kita begitu dekat dengan final. Pastinya ruang ganti sunyi dan sepi setelah itu. Namun, betapa menyakitkannya ini, kita telah melakukan perjalanan yang fantastis dan kita bisa saja menjadi juara” pungkasnya.

Leave a Reply